Untuk Mondy – Prolog

Yang terlihat sempurna tidak selamanya selalu sempurna

Yang terlihat sempurna belum tentu tidak punya luka

Yang terlihat gagah tidak selamanya selalu kuat

Yang terlihat gagah belum tentu tidak pernah menyerah

Yang terlihat bahagia tidak selamanya selalu tertawa

Yang terlihat bahagia belum tentu tidak pernah menderita

Hidup ini dihiasi dengan banyak kesalahan di masa lalu

Hidup ini dihiasi dengan kesadaran di masa ini

Hidup ini dihiasi dengan kesempatan di masa depan

Malam ini udara di Puncak terasa sedikit lebih hangat, Aku sesekali menoleh pada seorang perempuan yang duduk di sampingku, ia terlihat sangat menikmati mie soto yang sedang dilahapnya, padahal asapnya masih begitu mengepul. Aku tertawa saat melihatnya mengaduh kepanasan, tak lama kemudian ia lanjut melahap mie soto favoritnya itu. Sementara Aku sudah lebih dulu menghabiskan mie ku, satu porsi mie kuah selalu menggoda sekaligus terlalu sedikit untuk laki-laki sepertiku, haha.

Aku menengok sekali lagi ke arah mangkok mie nya yang sudah kosong, Ia sedang menyeka mulutnya dengan tisu. Ia memberi isyarat bahwa ia ingin ke toilet, kemudian beranjak dari bangkunya.

Warpat Puncak menjadi tempat pilihan kami, karena sudah cukup penat dengan panas dan ramainya Ibukota yang mejenuhkan. Kami duduk di bagian luar warung yang menghadap ke tebing, meski angin Puncak yang dingin memelukku, hatiku merasa hangat hanya karena melihat perempuan yang kini duduk di sampingku. Perasaan ini tidak berubah sejak pertama kali aku bertemu dengannya.

Dia Mondy, seorang perempuan yang pertama kali aku temui saat mendaki gunung Merbabu, empat tahun yang lalu. Perempuan yang membantuku membuat sambal kecap dan memberiku beberapa potong tempe yang baru ia goreng. Perempuan yang sangat bersemangat saat mengajari salah satu teman perempuanku menggunakan kamera DSLR. Ia begitu cekatan Ketika membereskan perlengkapan mendakinya, Ia yang akhirnya membuat rombonganku dan rombongannya menjadi akrab. Ia perempuan yang selalu tersenyum, pada siapapun.

Takdir membawaku bertemu kembali dengannya empat bulan kemudian setelah mendaki Merbabu, untuk sebuah proyek event pameran fotografi yang akan diadakan di sebuah Café di Bandung, yang ternyata ia adalah pemilik Café tersebut. Jujur saja, pertama kali aku datang ke Café itu untuk mengurusi proyek event, aku tidak pernah menyangka akan kembali bertemu dengannya. Dan aku akan bekerjasama dengannya selama tiga bulan.

Begitulah, hidup selalu memiliki kejutan dengan takdir yang selalu menjadi rahasia Tuhan. Empat tahun berlalu, dan inilah takdir kami untuk kesekian kalinya, duduk berdua di Warpat hanya untuk menyantap mie soto di tengah dinginnya udara Puncak.

“Kamu yakin mau serius sama aku?” suaranya memecah lamunanku. Matanya menatap tajam ke arahku. Rupanya, ia sudah kembali duduk sejak tadi, dan aku terlalu sibuk mengenang kembali bagaimana akhirnya aku dan dia bertemu.

“Yakin, Mon” Jawabku itu mantap, menatap lurus wajah perempuan yang dibalut jilbab krem di hadapanku.

Mondy terdiam, matanya mulai berpaling menatap gelas berisi jeruk hangat yang digenggamnya. Ia menyeka sudut matanya.

Aku masih terdiam memerhatikan Mondy dengan seksama, menanti kalimat yang akan Mondy ucapkan padaku. Kami hanyut dalam pikiran masing-masing. Mendadak, kehangatan yang kurasa menghilang, dingin yang sesungguhnya mulai kurasakan.

Mondy mengangkat wajahnya, senyum manisnya merekah di sana, tapi aku tahu meski tersenyum ada sesuatu yang Mondy sembunyikan dari balik matanya.

“Ada apa Mon?” Tanyaku pelan dan sungguh dengan rasa penasaran.

Mondy terdiam sejenak “Aji, apa hal yang bisa membuatmu nggak yakin sama aku?” Mondy balik bertanya.

Aku terdiam sejenak mencerna pertanyaanya.

“Nggak ada Mondy” Aku menjawabnya dengan yakin. Aku tak memalingkan sesentipun pandanganku pada Mondy. Perempuan yang aku kenal sejak empat tahun yang lalu. Perempuan yang selalu membuatnya terpesona dengan setiap tutur dan sikapnya, pribadinya yang sederhana namun dengan kecerdasan dan pengertian yang tinggi.

Mondy, perempuan yang tahu apa yang ia inginkan dalam hidupnya, perempuan yang akhirnya membuatku sadar akan banyak hal yang berharga dalam diri dan hidupku. Mondy menjelma menjadi sosok yang paling aku butuhkan. Tidak ada alasan untuk tidak memilih Mondy sebagai pasangan hidup.

Mondy kembali terdiam sebelum akhirnya bersuara “Aji, kurasa masih ada banyak hal yang belum kamu tahu tentang aku, apa kamu mau mendengarkan ceritaku?”

“Tentu” Jawabku pasti. Perempuan di hadapanku ini memang selalu penuh kejutan.

Mondy bergeming, ia meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah buku dan memberikannya padaku. Aku menerima buku itu, buku dengan sampul kulit berwarna cokelat itu cukup tebal.

“Itu buku catatanku, sebagian cerita hidupku kutulis di sana. Aku ingin kamu mengenalku seutuhnya. Aku ingin mengatakan ini sekarang, mungkin setelah nanti kamu membaca buku itu, pandanganmu bahkan perasaanmu padaku mungkin akan berubah, dan aku sudah siap dengan itu.”

Mondy terdiam sejenak, kemudian meneruskan kata-katanya “Di buku itu setiap cerita punya Bab, aku ingin kamu membaca perbab, setelah selesai satu Bab, kamu bisa menemuiku, akan kuceritakan lebih banyak”

Aku menatap buku yang  kupegang, aku bertanya-tanya mengapa Mondy mengatakan bahwa perasaanku bisa saja berubah setelah membaca buku ini? Kubuka halaman pertamanya, di sana tertulis rapi “Untuk Mondy.”

Aku membuka lagi halaman berikutnya. Di sana tertulis: Mengejar yang tak sampai.

“Kamu bisa membacanya nanti atau kapanpun kamu punya waktu luang” Ujar Mondy, saat tanganku hendak bergerak membuka halaman selanjutnya.

Aku mengangguk, lalu memasukkan buku itu ke dalam ranselku. Aku kembali menatap mata Mondy, seperti biasa tatapan Mondy selalu terlihat teduh. Untuk sejenak kami saling bertatap, dan tenggelam dalam perasaan dan pikiran masing-masing.

“Aji, terima kasih untuk hari ini, aku seneng banget rasanya” Ucap Mondy kemudian, Aku tersenyum merespon ucapan Mondy, perempuan itu memang selalu paham bagaimana bersikap pada pasangan dan orang lain. Nggak heran, kalau banyak sekali orang-orang yang nyaman berbicara dengan Mondy, sekalipun mereka baru pertama kali bertemu.

“Terima kasih kembali Ody” Aku mencuil ujung hidung Mondy. Di hatiku, ada rasa penasaran yang sungguh besar. Tak sabar rasanya ingin membaca buku yang ia berikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s